Baru-baru ini nama Jatinangor kian terkenal di nusantara. Itu disebabkan karena Jatinangor sudah beberapa tahun terakhir ini dijadikan sebagai salah satu kawasan pendidikan di Indonesia. Saat ini ada empat instansi pendidikan terkenal yang terdapat di kota kecil ini. Instansi-instansi tersebut adalah Unpad (Universitas Padjadjaran), ITB, IKOPIN, dan IPDN.
Pada beberapa tahun sebelumnya Jatinangor belum berkembang seperti sekarang ini. Sejak semakin banyaknya peminat yang ingin masuk ke Unpad maka kawasan ini semakin ramai oleh para mahasiswa. Dari tahun ke tahun Jatinangor semakin ramai oleh pendatang dari seluruh penjuru Indonesia bahkan mancanegara untuk ikut menimba ilmu. Setelah kemunculan kampus baru ITB, Jatinangor tak ayal semakin bertambah populasi penduduknya. Tempat-tempat hiburan maupun pertokoan sebagai sarana pendukung bagi warga dan mahasiswa semakin hari semakin bertambah.
Namun, dibalik itu semua tersimpan ironi yang cukup mendalam. Jatinangor yang dulu terlihat lebih baik kini menjadi kawasan pendidikan yang juga menjadi sarang baru bagi pengemis, anak jalanan, dan pengamen. Sering sekali sekarang ini terlihat anak-anak kecil yang seharusnya di usianya dihabiskan untuk bermain dan belajar malah dipakai untuk mencari uang. Para pengemis dan pengamen pun banyak mengisi sudut-sudut di kawasan pendidikan ini. Mereka kerap kali berkeliaran di sekitar kampus atau pergi dari tempat makan yang satu ke tempat makan yang lainnya. Di satu sisi mereka terlihat menyedihkan sehingga para pengunjung merasa iba dan ingin memberikan uang sekedarnya untuk mereka (apalagi jika yang memintanya seorang anak kecil atau orang yang sudah tua). Namun di sisi lain mereka terlihat menyebalkan karena hanya mengandalkan belas kasihan orang lain demi menyambung hidup mereka. Lebih menyebalkan lagi apabila yang menjadi pengamen adalah seorang pria yang masih memungkinkan untuk bekerja. Padahal dalam pandangan masyarakat, mereka yang masih sanggup lebih baik bekerja dengan upah yang tidak begitu besar daripada harus mengamen, dan itu lebih terhormat.
Yang disayangkan lagi adalah seperti tidak ada tindakan tegas dari aparat setempat, sehingga mereka dapat berkeliaran dengan bebas. Dengan tindakan yang seperti ini juga mengurangi keindahan kota yang seharusnya dijaga dengan baik. Seharusnya para anak jalanan, pengemis, dan pengamen ini dibina dengan baik dan diberi keterampilan di dinas sosial agar hidup mereka kelak tidak hanya mengandalkan belas kasihan dari orang lain. Selain itu, mereka dibina dengan baik di dinas sosial juga dengan harapan agar mereka nantinya bisa hidup lebih mandiri dengan keterampilan yang masing-masing mereka miliki.